Permendagri No 61 Tentang BLUD

Bagi temen-temen yang akan melakukan kajian tentang Badan Layanan Umum Daerah bisa link kesini ya, tks

Comments (1) »

TIP MENGHADAPI BENCANA

Tips Menghadapi Gempa Bumi
• Bila Berada di Dalam Rumah
1. Jangan panik dan jangan berlari keluar, berlindunglah di bawah meja atau tempat tidur.
2. Bila tidak ada, lindungilah kepala dengan bantal atau benda lainnya.
3. Jauhi rak buku, lemari dan jendela kaca.
4. Hati-hati terhadap langit-langit yang mungkin runtuh, benda- benda yang tergantung di dinding dan sebagainya.

• Bila Berada di Dalam Gedung Bertingkat
1. Hindari penggunaan lift, gunakan tangga darurat
2. Siapkan senter atau alat penerangan untuk berjalan di tangga darurat

• Bila Berada di Luar Ruangan
1. Jauhi bangunan tinggi, dinding, tebing terjal, pusat listrik dan tiang listrik, papan reklame, pohon yang tinggi, dan sebagainya.
2. Usahakan dapat mencapai daerah yang terbuka.
3. Jauhi rak-rak dan jendela kaca.

• Bila Berada di Dalam Ruangan Umum
1. Jangan panik dan jangan berlari keluar karena kemungkinan dipenuhi orang.
2. Jauhi benda-benda yang mudah tergelincir seperti rak, lemari , jendela kaca dan sebagainya.

• Bila Sedang Mengendarai Kendaraan
1. Segera hentikan di tempat yang terbuka.
2. Jangan berhenti di atas jembatan atau di bawah jembatan layang/jembatan penyeberangan.

Sumber : Bakornas

Tips Menghadapi Tsunami

• Jika tinggal atau berada di pantai

- Kenalilah dengan baik tempat-tempat yang dapat digunakan untuk menyelamatkan diri dari terjangan gelombang tsunami seperti bukit, bangunan tinggi, menara air, pohon dan bangunan tinggi lainnya.

- Kenalilah dengan baik tanda-tanda akan datangnya tsunami. Yaitu sebagai berikut:
1. Air laut yang surut secara tiba-tiba.
2. Terciumnya bau garam yang menyengat secara tiba-tiba.
3. Munculnya buih-buih air sangat banyak di pantai secara tiba-tiba.
4. Terdengar suara ledakan keras seperti suara pesawat jet atau pesawat supersonik atau suara ledakan bom runtuh.
5. Terlihat gelombang hitam tebal memanjang di garis cakrawala.

- Jika anda melihat salah satu atau beberapa dari tanda-tanda tersebut, lakukanlah hal berikut:
1. Jika anda sedang berada di atas kapal di tengah laut, segera pacu kapal anda kearah laut yang lebih dalam
2. Jika anda berada di pantai atau di dekat pantai, segera panjat bangunan atau pohon yang tinggi, yang paling dekat dari tempat anda berada. Ingat waktu kita untuk berlari dari kejaran gelombang tsunami itu hanya kurang dari 20 menit.

Sumber : LIPI

Comments (2) »

FLU BABI APA YANG HARUS WASPADAI?

SWINE INFLUENZA (FLU BARU H1N1)

APAKAH FLU BABI?
Flu babi adalah penyakit saluran pernapassan pada babi yang disebabkan oleh virus influenza tipe A. Penyakit ini terjadi pada babi. Secara normal flu babi tidak menyerang pada manusia, tetapi saat ini dapat menginfeksi manusia. Secara umum, kasus flu babi pada manusia terjadi pada orang-orang disekitar babi, tetapi dapat juga menularkan dari orang ke orang.

APAKAH terjadi infeksi flu babi pada manusia di Amerika?
Pada akhir maret dan awal April 2009, dilaporkan kasus pertama pada manusia karena infkesi virus influenza babi tipe A (H1N1) di Mexico dan menyebar ke California, Texxas dan New York. CDC bekerjasama dengan Departemen Kesehatan Mexico terus menyelidiki kasus ini.

Apakah Virus influenza babi menular?
CDC telah mebuktikan bahwa virus ini dapat menular dari manusia ke manusia.

Bagaimanakah gejala dan tanda flu babi pada manusia?
Gejala dari influenza babi pada manusia adalah mirip dengan gejala influenza biasa pada manusia seperti demam, batuk, sakit tenggorokan, tubuh nyeri, sakit kepala. Beberapa orang dapat disertai dengan diare dan muntah. Pada keadaan berat (pneumonia dan gagal napas) dapat menyebabkan kematian, selain itu flu babi dapat menyebabkan suatu perburukan pada kondisi medis kronis.

Jika anda sakit dan adanya tanda-tanda diatas, sebaiknya mencari sarana pelayanan medis.

Seberapa serius kah influenza babi?
Seperti influenza musiman, flu babi pada manusia dapat terjadi ringan sampai yang berat. Dari 2005 sampai Januari 2009, 12 kasus flu babi pada manusia yang terdeteksi di Amerika, tanpa adanya kematian. Bagaimanapun infksi flu babi dapat menjadi serius. Pada September 1988, wanita berusia 32 tahun dengan keadaan hamil tua di Winconsin, dirawat dengan pneumonia setelah terinfeksi flu babi dan meninggal 8 hari kemudian. Wabah flu babi di Fort Dix, New Jersey terjadi pada tahun 1976, menyebabkan 1 kematian. Di Mexico dalam waktu 2 minggu telah ada 1300 orang diduga terinfeksi flu babi, dan sekitar 86 orang meninggal dunia, dimana 22 orang dinyatakan konfirm flu babi.

Bagaimanakah penularan flu babi?
Penularan virus flu babi melalui 2 cara:
a. Melalui kontak babi yang terinfeksi atau lingkungan yang terkontaminasi oleh virus flu babi
b. Melalui kontak dengan penderita flu babi. Juga penularan manusia ke manusia, telah dilaporkan sama dengan influenza musiman.

Apakah ada obat untuk flu babi?
Ada. Rekomendasi CDC adalah menggunakan oseltamivir atau zanamivir untuk pengobatan dan pencegahan infeksi virus flu babi. Obat anti virus merupakan obat resep (pil, cair atau inhaler) untuk memerangi virus influenza di dalam tubuh kita. Jika sakit, obat antivirus dapat mengurangi penyakit ini dan akan lebih cepat sembuh. Untuk pengobatan, obat antivirus ini segera diberikan 2 hari setalah gejala muncul (hampir sama dengan pengobatan flu burung).

Berapa lama infeksi flu babi dapat menyebar?
Orang yang terinfeksi virus influenza babi berpotensi menular pada lainnya saat masih merupakan gejala dan sampai 7 hari masih dapat menularkan. Anak-anak, terutama yang muda, berpotensi menularkan lebih panjang periodenya.
Masa inkubasi penyakit ini : 3-5 hari.

Perlindungan apa yang harus dilakukan agar tidak menjadi sakit?
Tidak ada vaksin yang dapat melindungi dari influenza babi. Kegiatan sehari-hari adalah mencegah penyebaran karena ILI. Langkah-langkah yang perlu dilakukan adalah:
a. Tutp hidung dan mulut dengan tissue pada saat batuk atau bersin, kemudian buanglah tissue yang telah dipergunakan ketempat sampah.
b. Cuci tangan dengan sabun dan air, terutama setelah batuk atau bersin. Menggunakan hand clean berbahan dasar alkohol juga efektif.
c. Hindari kontak dengan orang yang sedang sakit
d. Apabila mengalami sakit influenza, sesuai dengan rekomendasi CDC agar tinggal di rumah tidak bekerja atau sekolah, dan mengurangi kontak dengan orang lain untuk mencegah penularan. Hindari menyentuh mata, hidung atau mulut, karena merupakan tempat jalannya penyebaran penyakit.
Apa yang dilakukan bila sakit?
Kalau ditemukan gejala seperti ini maka laporkan ke Puskesmas dan RS rujukan flu burung.
Apabila anda sakit, sebaiknya tinggal dirumah untuk menghindari kontak dengan orang lain dan untuk menghindari penyebaran penyakit anda.

Pada anak-anak tanda-tanda darurat yang perlu diperhatikan:
a. Napas cepat atau gangguan bernapas.
b. Warna kulit kebiru-biruan
c. Tidak cukup cairan yang diminum
d. Anak terlihat lesu/pucat
e. Gejala ILI dengan demam dan batuk yang berat
f. Demam dengan ruam
Pada dewasa tanda-tanda darurat yang perlu diperhatikan:
a. Kesulitan napas atau napas pendek
b. Nyeri atau terasa tekanan di dada atau perut
c. Sakit kepala mendadak (sudden dizziness)
d. Bingung (confusion)
e. Muntah (Vomiting)

Dapatkah tertular flu babi melalui makanan?
Tidak . Virus influenza babi tidak menular melalui makanan.

Langkah-langkah yang dimabil Depkes
a. Mewaspadai kemungkinan masuknya virus tersebut ke wilayah Indonesia dengan meningkatkan kesiapsiagaan di pintu-pintu masuk negara, terutama pendatang dari negara-negara sedang terangkit, dengan menggunakan „health Alert Card“
b. Mewaspadai semua kasus dengan gejala influenza (ILI) dan segera menelusuri riwayat kontak dengan binatang (babi).
c. Stop import daging babi dari negara terjangkit (Deptan).
Daftar KKP dengan peralatan Thermal Scanner
1. Batam
2. Denpasar
3. Dumai
4. Jakarta
5. Makasar
6. Manado
7. Mataram
8. Medan
9. Semarang
10. Surabaya
11. Tanjung Pinang
Daftar KKP yang memiliki peralatan body cleaner:
1. Batam
2. Denpasar
3. Jakarta (Cengkareng)
4. Tanjung Priok
5. Makasar
6. Mataram
7. Medan
8. Semarang
9. Surabaya
Daftar Laboratorium Yang dapat memeriksa specimen
1. Lab Litbangkes Jakarta
2. Lab Lemb Eijkman, Jakarta
3. Lab Mikrobiologi FK Universitas Islam Sumut
4. Lab Mikrobiologi FK UI, Jakarta
5. Lab Mikrobiologi FK UNDIP
6. Lab Mikrobiologi FK Udayana, Bali
7. Lab Mikrobiologi FK UNHAS, Sulsel
8. BBLK Palembang, Sumatra selatan
9. BBLK Surabaya, Jawa Timur
10. BBLK Bandung, Jawa Barat

Comments (1) »

INOVASI BARU PELAYANAN DI PUSKESMAS MELALUI

MENGAPA DIKEMBANGKAN KLINIK KEPERAWATAN ?

Kabupaten Sleman merupakan salah satu barometer pembangunan kesehatan di Indonesia, terbukti makin banyaknya tamu studi banding bidang kesehatan. Data yang tercover di Seksi Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kabupaten Sleman menunjukkan angka peningkatan jumlah tamu. Pada tahun 2003 ada 5 tamu yang berkunjung ke Dinkes Sleman, tahun 2004 ada 12 tamu, tahun 2005 ada 28 tamu, tahun 2006 ada 24 tamu, tahun 2007 ada 27 tamu , tahun 2008 sampai pertengahan Agustus sudah ada 37 tamu. Belum termasuk tamu yang berkunjung melalui bagian Humas Pemda Sleman dengan salah satu materi tujuan tentang kesehatan. Prosentase terbesar tujuan studi banding adalah pengembangan pelayanan kesehatan di Puskesmas. Dengan kenyataan ini, tantangan yang harus dijawab adalah pembangunan kesehatan yang berkesinambungan melalui inovasi pelayanan Puskesmas yang mengedepankan kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan yang paripurna.

Puskesmas sebagai pemberi pelayanan kesehatan terdekat bagi masyarakat berusaha untuk meningkatkan mutu pelayanan dengan berbagai upaya, antara lain peningkatan kualitas pelayanan, peningkatan kompetensi petugas, dan peningkatan sarana-prasarana. Disisi lain puskesmas berupaya untuk menyajikan paket pelayanan yang paripurna secara terintegrasi melalui pelayanan rawat inap, pelayanan rawat jalan, dan pelayanan 24 jam terbatas.

Klinik Keperawatan sebagai inovasi peningkatan pelayanan kesehatan kepada masyarakat di unit rawat jalan Puskesmas bertujuan untuk memberikan pelayanan keperawatan secara paripurna  sesuai kewenangan perawat baik dalam kompetensi mandiri, kompetensi delegasi dan kompetensi diperluas/limpah wenang dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan kepada individu di unit pelayanan kesehatan baik dalam rentang sehat maupun sakit.

Pelayanan Klinik Keperawatan merupakan bagian dari seluruh sistem pelayanan rawat jalan di Puskesmas yang keberadaannya sejajar dengan unit pelayanan yang lain, seperti Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak, Kesehatan Reproduksi Remaja,  Pelayanan Kesehatan Umum, Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut, Laboratorium, Radiologi, Fisioterapi, Psikologi, Konsultasi Gizi, Konsultasi Kesehatan Lingkungan dan lain-lain.

SIAPA  SAJA  YANG  MENJADI  PELANGGAN  KLINIK  KEPERAWATAN ?

                        Lingkup tindakan di klinik keperawatan keperawatan meliputi tindakan mandiri perawat, tindakan kolaborasi, dan tindakan limpah wenang, dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan.

Sasaran pelayanan di klinik keperawatan adalah kasus-kasus yang memerlukan asuhan keperawatan yang terdiri dari :

  1. Sasaran prioritas

Sasaran prioritas individu adalah usia lanjut, penderita penyakit menular (a.l TB Paru, Kusta, Malaria, Demam Berdarah, Diare, Ispa,/Penumonia), penderita penyakit degeneratif. Sasaran prioritas ini kemudian akan dilakukan tindak lanjut dengan kunjungan rumah untuk mengurangi potensi penyebaran penyakit, ketidak teraturan minum obat, dan meminimalkan bertambah buruknya kondisi pasien karena faktor lain di lingkungan tempat tinggal.

  1. Sasaran non prioritas

Adalah sasaran yang perlu mendapatkan asuhan keperawatan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pelayanan pengobatan ataupun pelayanan kesehatan lainnya. Antara lain : jahit luka, perawatan luka, ganti balutan, kontrol pasca  operasi, perawatan luka bakar, pembersihan kotoran ditelinga, circumcisi/kithan, pemasangan kateter, pemeriksaan rekam jantung, oksigenasi, dan tindakan lain sesuai dengan ketersediaan sarana di masing-masing Puskesmas.

Dengan adanya klinik keperawatan masyarakat yang membutuhkan pelayanan segera karena kasus-kasus keperawatan tidak perlu antri di Rawat Jalan Umum/ BPU, sehingga waktu antrian lebih pendek.

KITA BUAT PERCONTOHAN DULU ……

            Pengembangan Klinik Keperawatan merupakan hal baru yang dikembangkan sebagai bagian pelayanan rawat jalan Puskesmas di Kabupaten Sleman. Karena merupakan hal baru di buat area percontohan pengembangan, yaitu di Puskesmas Ngemplak I dan Puskesmas Seyegan yang kemudian diikuti dengan 22 Puskesmas yang lain. Kedua Puskesmas ini diharapkan menjadi rujukan pengembangan Klinik Keperawatan di Puskesmas Kabupaten Sleman.

Puskesmas Ngemplak I, pelayanan di Klinik Keperawatan sudah dilaksanakan sejak Juni 2007 dan sudah dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat. Rata-rata kunjungan 59 pasien perbulan, dengan kasus terbesar adalah perawatan luka (pasca jahit, luka bakar, pasca operasi kecil, dll), pembersihan kotoran di telinga (cerumen), reposisi telinga, circumcisi, oksigenasi, rekam jantung, konseling keperawatan dirumah untuk kasus-kasus penyakit kronis, perencaan tindak lanjut kasus di rumah (home care), pemasangan infus dan kateterisasi pra-rujukan dan kasus-kasus lain. Dengan adanya Klinik Keperawatan pasien yang “hanya akan”  melakukan perawatan luka/ganti verban tidak perlu antri di BPU, pasien mengatakan senang dengan adanya pelayanan Klinik Keperawatan ini.

Sakniki nek namung ajeng ngontrolke jahitan mboten sah antri dangu, selak ngampet sakit , antrine langkung cepet, langkung sekeco.”, (“sekarang kalau hanya untuk kontrol setelah dijahit tidak perlu antri lama, nahan sakit, antrian lebih cepat, lebih enak”) demikian komentar pasien yang sedang dilakukan perawatan luka bakar di Klinik Keperawatan yang berhasil kita temuai saat bertandang ke Puskesmas Ngemplak I.

Puskesmas Seyegan, pelayanan di Klinik Keperawatan dilaksanakan sejak Mei 2008, dengan rata-rata kunjungan 35 pasien perbulan. Dengan adanya inovasi pengembangan pelayanan baru masyarakat langsung memberikan sambutan yang positif, dibuktikan dengan adanya kunjungan sebagai akses masyarakat terhadap jenis pelayanan ini. Kepala Puskesmas Seyegan memberikan motivasi yang tinggi terhadap peningkatan kinerja perawat melalui keikut sertaannya dalam praktik mandiri perawat di Klinik Keperawatan.

Kami sangat mendukung dengan adanya pengembangan Klinik Keperawatan ini. Pada audit ISO mendatang Klinik Keperawatan akan menjadi salah satu area audit, sehingga keberadaannya terstandar sama dengan unit pelayanan lain” demikian yang disampaikan oleh dokter Elyssa Sinaga Kepala Puskesmas Seyegan ketika dilakukan audit Pelayanan Klinik Keperawatan oleh Tim Audit dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman.

YANG MASIH MENJADI Pe eR KE DEPAN….

            Sesuatu yang baru tanpa ada sambutan yang beragam tentu kuranglah mengena di hati, demikian juga keberadaan Klinik Keperawatan. Semua masukan yang disampaikan merupakan pintu masuk menuju perbaikan. Selama pengembangan di dua Puskesmas percontohan tidak ditemukan hambatan yang dirasa serius. Sebagai langkah lanjut pengembangan, hal yang perlu dilakukan  adalah sosialisasi di Lingkup Dinas Kesehatan dengan sasaran Puskesmas yang lain, kebijakan yang mendukung terhadap pengembangan di semua Puskesmas, penyusunan petunjuk teknis di tingkat Kabupaten, dan adanya dukungan dari profesi lain terhadap kewenangan perawat dalam kompetensi mandiri keperawatan di unit pelayanan kesehatan masyarakat. Dan ujung ujungnya adalah nunggu dana sebagai sarana utama untuk pengembangan.

Sebuah prestasi pada mutu

Sebuah prestasi pada mutu

Comments (1) »

RENEWAL ISO 9001 : 2008 DI DI DINAS KESEHATAN KABUPATEN SLEMAN

Dinas Kesehatan selama 2 hari (senin tgl 16 dan 17 Pebruari 2009) dilakukan Audit Ekternal oleh SGS yang dilakukan oleh 2 orang auditor yaitu Bapak Widiyatmoko dan Bapak Rizamarru. Komitmen Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman didalam menerapkan sistim manajemen mutu ISO 9001 : 2000 terus dikembangkan  untuk senantiasa meningkatkan kualitas kinerjanya.

Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman telah berhasil mempertahankan sertifikat ISO 9001 : 2000 selama 3 tahun, hal ini menunjukkan komitmen yang tinggi dari seluruh karyawan Dinkes untuk selalu konsisten menerapkan Sistim Manajemen Mutu di organisasinya , terbukti selama 3 tahun sertifikat tidak dicabut.

            Manfaat yang besar bagi organisasi sangat dirasakan dengan implementasi sistim manajemen mutu ini. Kinerja disetiap kegiatan manajemen menjadi terukur dan mampu telusur sesuai standar mutu, pendokumentasian kegiatan menjadi lebih akuntabel dan transparan. Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman memiliki komitmen bahwa penerapan Sistim Manajemen Mutu harus berkesinambungan dengan tetap melanjutkan dan mengembangkan area mutu dari penerapan ISO 9001 : 2000, untuk itu dibutuhkan proses re-sertifikasi (renewal).

Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman pada tanggal 16 – 17 Februari 2009 telah melaksanakan renewal ISO 9001 : 2008 ( merupakan sistim sertifikasi manajemen mutu internasional terbaru yang diberlakukan mulai akhir th 2008 ). Pada kesempatan tersebut Dinkes telah berhasil mempertahankan SMM sekaligus lulus  sertifikasi ISO 9001 : 2008 tanpa temuan yang bersifat kritikal.

Komitmen Dinkes utk. melakukan ” Continueing Improvement ”  dari Sistim Manajemen Mutu ISO 9001 : 2000 ke ISO 9001 : 2008 tidak hanya untuk Dinkes saja tapi juga akan diterapkan di 25 Puskesmas di wilayah Kabupaten Sleman.

Saat ini telah ada 10 Puskesmas yang tersertifikasi ISO, dua diantaranya telah lulus sertifikasi ISO 9001 : 2008 pada bulan Desember 2008 lalu, yaitu Puskesmas Prambanan dan Puskesmas Gamping I.

 Sertifikasi ISO 9001 : 2008  akan diterapkan pada seluruh puskesmas yang belum menerapkan ISO sedangkan utk 8 puskesmas yang telah mendapatkan sertifikasi ISO 9001 : 2000 akan dipersiapkan untuk menerapkan ISO 9001 : 2008 pada saat renewal nanti .

Demikianlah komitmen yang diambil oleh seluruh jajaran Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman didalam menerapkan dan mengembangkan sistim manajemen mutu secara konsisten dan berkesinambungan.

 

                                                                                                 

 

Secara umum

Ciri ISO 9001:2008 adalah:

a. Berorientasi kepada kepuasan pelanggan

b. Produk dituntut untuk memenuhi persyaratan pelanggan dan peraturan terkait

c. Pendekatan proses (process approach)

d. Memperhatikan semua aspek yang mempengaruhi mutu

e. Mendorong perbaikan terus menerus

f. Kompatibel dengan standar sistem manajemen yang lain

Beberapa penekanan dalam ISO 9001:2008 antara lain:

Dalam persyaratan umum dijelaskan bahwa organisasi harus:

a. Menetapkan proses yang dibutuhkan

b. Menerapkan urutan dan interaksi proses

c. Menetapkan kriteria dan metode agar pelaksanaan dan pengendalian proses   

    berjalan dengan efektif

d. Memastikan ketersediaan sumber daya dan informasi yang dibutuhkan

e. Mengukur, memantau dan menganalisis proses

f. Melakukan perbaikan berkesinambungan terhadap proses

g. Melakukan pengendalian terhadap proses yang dilakukan subkontraktor

Leave a comment »

Kasus penyakit Hipertensi dan Diabetus Mellitus Di Puskesmas Kabupaten Sleman sangat tinggi

Kasus penyakit Hipertensi dan Diabetus Mellitus  Di  Puskesmas Kabupaten Sleman sangat tinggi

Berdasarkan laporan dari 24 Puskesmas yang ada di Kabupaten Sleman tahun 2008, penyakit hipertensi dan penyakit Diabetus Mellitus (DM) sudah masuk dalam urutan sepuluh penyakit terbanyak di Kabupaten Sleman. Selain dua penyakit tersebut, urutan tertinggi ditempati oleh penyakit batuk pilek (common Cold). Sedangkan urutan kedua ditempati oleh penyakit hipertensi / tekanan darah tinggi, dan urutan ketiga adalah infeksi akut lain pada saluran pernafasan bagian atas.   Sementara untuk kasus hipertensi sebanyak 57338 yang meliputi 18190 kasus baru ( 32%) dan 39148 kasus lama (68% ), Diabetus Mellitus tahun 2008 tercatat sebanyak 2.907 (12%) kasus dengan perincian kasus baru sebanyak 18.784 kasus dan kasus lama sebanyak 20.360 (88%) kasus.  

Penyakit Hipertensi adalah apabila tekanaan sistolik > 120 mmHg dan tekanan diastolic > 90 mmHg secara kronik. Hipertensi sering dijumpai pada individu diabetes mellitus (DM) dimana diperkirakan prevalensinya mencapai 50-70%. Modifikasi gaya hidup sangat penting dalam mencegah tekanan darah tinggi dan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam mengobati tekanan darah tinggi. Merokok adalah faktor risiko utama untuk mobilitas dan mortalitas  Kardiovaskuler.

Di Indonesia banyaknya penderita Hipertensi diperkirakan 15 juta orang tetapi hanya 4% yang merupakan hipertensi terkontrol. Prevalensi 6-15% pada orang dewasa, 50% diantaranya tidak menyadari sebagai penderita hipertensi sehingga mereka  cenderung untuk menjadi hipertensi berat karena tidak menghindari dan tidak mengetahui factor risikonya, dan 90% merupakan hipertensi esensial.Saat ini penyakit degeneratif dan kardiovaskuler sudah merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Hasil survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1972, 1986, dan 1992 menunjukkan peningkatan prevalensi penyakit kardiovaskuler yang menyolok sebagai penyebab kematian dan sejak tahun 1993 diduga sebagai penyebab kematian nomor satu. Penyakit tersebut timbul karena berbagai factor risiko seperti kebiasaan merokok, hipertensi, disiplidemia, diabetes melitus, obesitas, usia lanjut dan riwayat keluarga. Dari factor risiko diatas yang sangat erat kaitannya dengan gizi adalah hipertensi, obesitas, displidemia, dan diabetes mellitus. 

Berdasarkan hasil Riset kesehatan daerah (Riskesdas tahun 2008) bahwa kebiasaan masyarakat merokok saat ini di Provinsi DIY sebanyak 23,8% pada usia 10 tahun keatas, dengan jumlah rokok yang dihisap setiap hari sebnayak 8 batang/hari. Hal ini menunjukkan bahwa pola perilaku masyarakat terhadap rokok sangat tinggi dan ini sebagai salah satu pemicu terjadinya kasus hipertensi dan DM di Masyarakat.

Leave a comment »

SPMKK KABUPATEN SLEMAN DIKUNJUNGI WHO

IMPLEMENTASI SPMKK BAGI PERAWAT DAN BIDAN DI PUSKESMAS
DALAM MENDUKUNG IMPLEMENTASI ISO 9001:2000
haryanto,
Pengantar
Sebuah prestasi menggembirakan telah diraih oleh pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Kesehatan dalam mewujudkan sebuah pelayanan kesehatan yang bermutu, yaitu dengan telah diterimanya sertifkasi ISO 9001:2000 oleh badan akreditasi Internasional dan Pelayanan terbaik dengan piala Adhi Citra pelayanan prima oleh Presiden Megawati Soekarno Putri awal September kemaren . Tulisan berikut akan mengupas secara mendalam tentang beberapa manfaat dan komitment pemerintah daerah dalam meningkatkan Mutu pelayanan kesehatan di Kabupaten Sleman.
Mengapa perlu pelayanan kesehatan yang bermutu?
Kabupaten Sleman sebagai salah satu Kabupaten yang ada di wilayah DIY, secara geografis terletak di wilayah paling utara dari Kabupaten/Kota, tepatnya diselatan lereng merapi. Beberapa fasilitas pendukung pelayanan kesehatan dan pertumbuhan penduduk yang relatif cepat sangat mempengaruhi dalam menentukan kebijakan kesehatan yang lebih proaktif dan responsif terhadap perubahan yang sangat cepat.
Melalui keputusan Bupati Sleman No.45 tahun 2001, telah ditentukan struktur organisasi Puskesmas dengan jumlah puskesmas sebanyak 24 buah (4 buah dengan fasilitas Puskesmas TT), dan sisanya Puskesmas Non TT. Dalam struktur tersebut diatur jabatan Kepala Puskesmas sebagai pejabat struktural dan dibantu 3 (tiga) orang koordinator (koordinator pelayanan klinis, koordinator yankesmas dan koordinator Tata Usaha). Hal ini sangat berbeda sekali dengan keadaan sebelum penataan, dimana peran pimpinan Puskesmas belum jelas karena masih disibukkan dengan tugas-tugas diluar tugas pokok dan fungsinya misalnya rapat di Kecamatan, serta tugas-tugas manajerial, sehingga sangat mungkin kalau pelayanan pada pasien saat itu masih banyak dilakukan oleh tenaga keperawatan (perawat dan bidan) untuk melakukan tugas-tugas yang seharusnya merupakan kewenangan tugas seorang dokter.
Sejalan dengan digulirkannya Otonomi Daerah melalui UU 22 tahun 1999 dan UU 25 tahun 1999, dinas kesehatan berupaya bangkit merencanakan pelayanan kesehatan kedepan sebagai sebuah pelayanan yang mempunyai keunggulan tinggi serta menjamin akses keseluruh wilayah tanpa mengesampingkan aspek kepuasan pasien yang dilayaninya. Beberapa kebijakan kesehatan yang ditempuh dalam mengembangkan peningkatan mutu antara lain (1) Perubahan paradigma /mindset , perubahan dimaksud lebih kepada bagaimana memperlakukan sebuah lembaga untuk lebih bisa berkembang dan berinovasi jauh ke depan. Sebagai contoh misalnya memperlakukan puskesmas tidak lagi sebagai obyek tetapi sebagai subyek, (2) penataan organisasi, melalui perda 12 tahun 2003 telah ditentukan struktur organisasi dinas kesehatan Kabupaten Sleman dengan 1 kepala dinas eselon II, dan 4 kepala bidang dan 1 kepala Bagian TU eselon III, 15 kepala seksi dengan eselon IV serta 1 UPTD JPKM. (3) Pengembangan SDM (sumber daya Manusia), SDM di Kabupaten sleman baik secara kualitas maupun kuantitas mengalami peningkatan baik melalui pendidikan lanjutan maupun pelatihan-pelatihan. Demikian juga secara mandiri banyak pegawai yang menempuh jenjang pendidikan lanjutan. (4) Pembeyaan kesehatan, secara umum jumlah pembeayaan kesehatan 80% bersumber dari anggaran APBD Kabupaten, sedangkan sisanya dari berbagai sumber (PHP I, APBD Propinsi maupun DAK), melihat hal tersebut sangat menggembirakan karena beaya kesehatan secara umum sebagian besar sudah tercukupi dari dana Daerah. (5) Pemenuhan Sarana dan Prasarana baik pelaratan medis maupun non medis. Perbaikan sarana non medis terutama diarahkan untuk perbaikan sarana fisik (gedung/bangunan) yang disesuaikan dengan kondisi sekarang sehingga tidak ada lagi kesan bangunan pelayanan kesehatan di Kabupaten Sleman seperti sebuah pelayanan yang diperuntukkan orang-orang kalangan menengah kebawah, tetapi semua lapisan masyarakat dapat merasakan kenyamanan pelayanan dengan melihat fisik bangunan yang bagus, sehingga fenomena “bulgur” seperti yang disampaikan oleh pakar kebijakan kesehatan dari UGM Dr. Laksono Trisnantoro, Msc. PhD, tersebut sedikit demi sedikit akan terabaikan. Menyangkut sarana medis dilakukan dengan memenuhi peralatan yang standar dan mutu pelayana yang berkualitas.
Disisi Lain menurut dr. Sunartono,M.Kes, upaya peningkatan mutu pelayanan pada sarana kesehatan milik pemerintah tersebut, menjadi prioritas utama pemerintah daerah sesuai dengan tuntutan masyarakat. Pandangan masyarakat terhadap pelayanan pelayanan di Puskesmas menjelang diberlakukannya otonomi daerah, ternyata mendorong Pemerintah Daerah Kabupaten Sleman untuk melakukan pembenahan terhadap puskesmas. Pembenahan tersebut dimaksudkan agar puskesmas mendapat pengakuan ditengah masyarakat, yaitu dapat memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu. Puskesmas merupakan sarana kesehatan terdekat dengan masyarakat, harus siap untuk membuktikan kemampuannya dalam memberikan kepuasan kepada para pengguna.
Beberapa pandangan yang berkembang dimasyarakat terhadap pelayanan kesehatan khususnya puskemas adalah 1) adanya citra pelayanan yang buruk khususnya menyangkut mutu, 2) ketidaktahuan petugas tentang standar pelayanan yang benar dan tepat, 3) belum menerapkan atau mengimplementasikan system manajemen mutu di puskesmas dengan standar baku.
Strategi pengembangan mutu pelayanan kesehatan di Puskesmas
Pengembangan mutu pelayanan tidak semata-mata sebagai hasil yang langsung dapat terlihat hasilnya, Kabupaten Sleman dalam mendorong terciptanya pelayanan kesehatan yang bermutu tersebut telah melalui proses yang sangat panjang. Beberapa tahapan kegiatan yang dilakukan antara lain 1) tahap persiapan: a) melakukan kajian-kajian advokasi pada stakeholder , melakukan bench march dan analisis Sumber daya manusia, analisis unit cost pembeayaan kesehatan, b) perubahan minsed/pola pikir dengan melalui Learning Organizing , peneltian dan pengembangan (survey kepuasan pelanggan, survey kemampuan dan kemauan bayar masyarakat, c) Pemilihan puskesmas sebagai lokasi pengembangan penerapan standar pelayanan khusus Puskesmas Depok I dan Mlati II sebagai awal persiapan penerapan standar mutu pelayanan ISO 9001:2000, beberapa persiapan antara lain menyiapkan kebutuhan sarana dan prasarana fisik maupun non fisik, persiapan fisik melalui pembangunan gedung Puskesmas dengan luas bangunan kurang lebih 500 meter persegi,terdiri dari dua lantai. Sarana peralatan medis juga diberikan sesuai dengan peralatan yang lebih canggih dan sangat modern. Kesiapan non fisik antara lain penyiapan kebutuhan SDM, pembimbingan, membangun komitmet (team work). Tahap Memperoleh sertikasi, proses untuk memperoleh sertifikat ISO 9001;2000 dilaksanakan sejak pertengahan tahun 2003 melalui tahapan-tahapan studi banding, sosialisasi, executifve brief serta pelatihan dan konsultasi intensif. Sampai dengan saat ini telah berhasil diraih satu Puskesmas (puskesmas Depok I) yang berhasil meraih sertifikat ISO 9001:2000, dan selanjutnya akan menyusul 3 puskesmas ( Mlati II, Minggir, Ngemplak I) dan 1 Dinas Kesehatan sedang dalam proses menerapkan pelayanan dengan persyaratan ISO 9001:2000.
Prestasi lain yang mendukung peningkatan mutu Puskesmas di Kabupaten Sleman.
1) Kemandirian Puskesmas
Mengapa kemandirian Puskesmas?
Sejarah perkembangan sebuah pelayanan kesehatan di Indonesia diera desentralisasi telah banyak mengalami perubahan, salah satunya adalah pemberian otonomi pengelolaan kewenangan secara luas. Diawali adanya kebijakan pemerintah tentang perjan yang memberikan kewenagan dalam menggunakan pendapatannya. Dan tahun 2003 yang lalu keluar peraturan pemerintah yang menyatakan bahwa RSUD dan vertikalnya sebagai Public enterprise, Selanjutnya untuk pelayanan di Puskesmas diatur dengan keputusan bersama antara Menkes dan Mendagri No 93A/MENKES/SKB/II/1996 dan No 17 tahun 1996 tentang pedoman pelaksanaan pungutan retribusi pelayanan kesehatan pada puskesmas. Dalam peraturan tersebut ditetapkan bahwa 50% pendapatan di Puskesmas dapat digunakan langsung sebagai operasional di Puskesmas, sedangkan 50% sebagai pendapatan daerah. Di Kabupaten Sleman melalui SK Bupati KDH Sleman No 48/SK.KDH/A/1999 selain 50% sebagai pendapatan yang langsung digunakan masih ditambah yang 50% sebagai subsidi dari pemerintah sehingga sejak tahun 1999, pendapatan di Puskesmas 100% dikembalikan sebagai operasional puskesmas.
Pada akhir tahun 2002 pemerintah pusat mengeluarkan sebuah kebijakan tentang pengelolaan puskesmas di arahkan menjadi swadana dan terakhir dari konsep swadana diubah menjadi swakelola.
Kabupaten Sleman dalam menyikapi adanya ketentuan tersebut diatas, sangat berhati-hati sehingga kepala dinas kesehatan telah memutuskan bahwa di Kabupaten Sleman tidak menggunakan istilah swadana, swakelola maupun puskesmas mandiri, yang digunakan adalah kemandirian Puskesmas. Beberapa alasan yang bisa dikemukakan adalah secara umum: bahwa penggunaan ketiga istilah tersebut tidak akan memberikan keuntungan dalam menentukan pelayanan kesehatan kedepan, tetapi justru menjadi sebaliknya akan mengekang dinas kesehatan dalam melakukan advokasi dengan stakeholder yang lain. Secara khusus 1) pengembangan Puskesmas tetap sebagai pelayanan public dengan prinsip non profit oriented.2) Fokus utama tetap pelayanan dasar (basic services) 3) Tetap diperlukan subsidi baik untuk operasional maupun investasi, 4) diberikan otonomi dan tanggungjawab untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.
Langkah-langkah mewujudkan kemandirian Puskesmas.
Beberapa langkah yang diambil dalam mewujudkan kemandirian Puskesmas meliputi a) identifikasi masalah , kegiatan yang dilakukan antara lain survey harapan masyarakat atas pelayanan puskesmas , survey kemauan dan kemampuan bayar masyarakat, studi komparasi/benchmarking, analisis kebutuhan sumber daya (tenaga,keuangan, peralatan) b) Problem solving, c) menyusun draft indicator kemandirian, d) melakukan uji coba instrument di 2 Puskesmas (ngemplak I dan Depok I), e) revisi instrument, f) implementasi, g) monitoring dan h) evaluasi kemandirian.
Dalam pengembangan kemandirian di Kabupaten Sleman telah ditentukan tipologi kemandirian dimana ada tiga tipe yaitu kemandirian tingkat pratama, kemandirian tingkat madya dan kemandirian tingkat utama. Sebagai alat ukur yang dikembangkan dalam kemandirian di kabupaten Sleman meliputi 1) jenis Puskesmas (Puskesmas rawat inap dan non rawat inap), 2) Manajemen pengelolaan keuangan puskesmas, 3) Manajemen ketenagaan, 4) manajemen dan jaminan Mutu Puskesmas dan 5) kemampuan pembeayaan masyarakat.
Hasil Evaluasi kemandirian
Berdasarkan hasil evaluasi sesuai indicator kemandirian puskesmas didapatkan hasil sebanyak 13 Puskesmas dengan kategori tipe kemandirian pratama (Puskesmas Prambanan, Kalasan, Cangkringan, Depok II, Gamping II, Godean I, Moyudan , Ngaglik II, Ngemplak II, Tempel II, Ngaglik I, Turi, Mlati I) dan 11 Puskesmas kategori kemandirian tingkat Madya (Mlati II, Ngemplak I, Depok I, Pakem, Godean II, Gamping I, Berbah, Seyegan, Tempel I, Minggir, Sleman)
2) Pengembangan SPMKK (Sistem Pengembangan Manajemen Kinerja Klinik Keperawatan) bagi bidan dan perawat dalam tatanan komunitas dan RS.
SPMKK (system Pengembangan Manajemen Kinerja Klinik Keperawatan) sebagai salah satu model pengembangan manajerial untuk bidan dan perawat mempunyai hasil yang positif dalam mengembalikan peran dan fungsi tenaga keperawatan dalam bidangnya. Beberapa alasan yang menyangkut pengembangan SPMKK di Kabupaten Sleman seperti disampaikan oleh kepala dinas kesehatan. dr.Sunartono,M.Kes, antara lain (1) secara teoritis dengan menerapkan SPMKK secara tidak langsung mengarahkan kepada tenaga keperawatan (bidan dan perawat) senantiasa bekerja secara profesional sehingga profesionalisme bidan dan perawat meningkat, dengan adanya profesionalisme yang diterapkan mendorong peningkatan pelayanan mutu klinis menjadi baik, dan dengan semakin baiknya mutu klinis yang dlakukan secara berkesinambungan akan mendorong adanya peningkatan kinerja organisasi melalui penerapan komitment pagawai, hal tersebut akan meningkatkan pendapatan secara finansial yang semakin besar sehingga revenue yang diharapkan akan bertambah. Keadaan ini secara terus menerus diupayakan dan dengan tetap menjaga mutu pelayanan yang diberikan, terutama kepuasan customers yang dilayani baik secara internal maupun eksternal. (2) Sedangkan yang menjadi lasan praktis mengapa memerlukan SPMKK adalah a). secara faktual bahwa tenaga keperawatan (perawat dan bidan) di Kabupaten Sleman untuk puskesmas dan RSUD sebanyak 42,95 % sehingga hampir separoh dari jumlah tenaga yang ada, sehingga kontak antara pasien dengan petugas kesehatan lebih banyak dilakukan oleh jenis tenaga tersebut. b) menurut data WHO (2001) menunjukkan bahwa sesuai dengan hasil penelitian yang telah dilakukan ditemukan bahwa prosedur pelayanan yang dilakukan oleh puskesmas/RS banyak yang tidak dimengerti oleh perawat dan bidan, perawat dan bidan tidak mempunyai job description , dalam waktu kurang dari tiga tahun banyak perawat dan bidan yang kurang mendapatkan pendidikan lanjutan, perawat dan bidan belum diberikan peran dan fungsinya sesuai dengan jenjang pendidikan dan senioritasnya, dan ketidakpastian jenjang karier perawat dan bidan serta reward and punishment belum diberikan secara adil.
Upaya Pengembangan SPMKK di Kabupaten Sleman
Tujuan dari upaya pengembangan SPMKK dalam jangka pendek adalah (1) agar supaya tenaga keperawatan (perawat dan bidan) di Puskesmas dapat membuat standar dan diskripsi pekerjaan sesuai dengan topuksinya (2) Mempunyai kemampuan manajerial dalam mengelola kegiatan keperawatan di Puskesmas, (3) mempunyai hubungan sistem monitoring indikator kinerja (4) senantiasa mengembangkan proses pembelajaran penyelesaian kasus secara berkesinambungan melalui RCD (Reflektif Case Discussion). Upaya jangka panjangnya adalah meningkatkan profesionalisme bidan dan perawat , karena bagaimanapun tuntutan akan profesionalisme dalam melaksanakan pekerjaannya akan menjadi syarat dalam mewujudkan bentuk akuntabilitas publik.
Secara umum beberapa kegiatan yang telah dilakukan dalam pengembangan SPMKK sampai dengan tahun 2005 telah berhasil dilatih sebanyak 174 orang (adalah sebagai berikut:
1. Kegiatan intervensi oleh WHO pada tahun 2000, 12 orang (4 perawat, 4 bidan puskesmas dan 4 orang dari
RSUD).
2. Melakukan roll out SPMKK tahap I, sebanyak 33 orang terdiri dari 8 orang dari 5 Puskesmas dan 12 orang
dari RSUD, serta 6 orang Trainer.
3. Roll out 2 pada tahun 2002 sebanyak 40 peserta di 10 Puskesmas,
4. Roll out 3 pada tahun 2003 sebanyak 9 Puskesmas dengan 40 peserta.
5. Roll out 4 pada tahun 2004 sebanyak 40 orang dengan mengundang puskesmas yang berdasarkan hasil
monitoring belum bisa berjalan dengan baik dilakukan pelatihan ulangan untuk memperkuat kapasitas
pelaksanaan SPMKK sehingga diharapkan berjalan dengan baik.

6.Tahun 2005 dilakukan pelatihan sebanyak 28 orang terdiri dari 2 orang perpuskesmas dengan mengambil 14
puskesmas berlangsung di Opp Room kabupaten sleman dari tanggal 22 sampai dengan 29 Agustus 2005.
7.Tahun 2006 pelatihan sebanyak 24 orang dengan Dana dari APBD
8.Tahun 2007 dilakukan Monitoring SPMKK di 24 Puskesmas
9.Tahun 208 Membuat inovasi klinik perawatan di 2 Puskesmas yaitu Puskesmas Seyegan dan
Ngemplak I
10.Tahun 2009 Mengembangkan klinik keperawatan di 2 Puskesmas yaitu Sleman dan Mlati II

Selain kegiatan tersebut diatas juga telah dilakukan monitoring untuk melihat seberapa jauh perkembangan SPMKK yang telah dilatihkan, dari hasil monitoring tersebut ada 10 Puskesmas dalam pelaksanaannya belum optimal yaitu: Puskesmas Prambanan, Puskesmas Depok II, Puskesmas Ngemplak II, Puskesmas Gamping II, Puskesmas berbah, Puskesmas Cangkringan, Puskemas Turi, Puskesmas Ngaglik II, Puskesmas Tempel II dan Puskemas Minggir.

Comments (1) »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.